Khutbah Arafah 1447 H/2026 M Di Masjid Namirah Oleh Syekh Dr. Ali Al-Hudhaifi

Kategori : Khutbah, Ditulis pada : 31 Mei 2026, 22:30:54

Syekh Ali Al-Hudhaifi Dalam khutbah Arafah Menyatakan Bahwa Ibadah Haji Merupakan Kewajiban Yang Menampilkan Nilai-nilai Saling Mengenal, Persaudaraan, Kerjasama, dan Solidaritas Di Antara Umat Islam

Arafah, 9 Dzulhijjah 1447 / Selasa 26 Mei 2026

Imam dan khatib Masjid Nabawi, Syekh Dr. Ali Al-Hudhaifi, menegaskan bahwa ibadah haji merupakan kewajiban yang menampilkan nilai-nilai saling mengenal, persaudaraan, kerja sama, dan solidaritas di antara umat Islam.

Menurutnya, umat Muslim dari berbagai bahasa, warna kulit, dan negara berkumpul untuk menunaikan manasik haji sebagai saudara yang saling mencintai. Mereka menyaksikan berbagai manfaat dari ibadah tersebut, berbagi hewan kurban, serta menampilkan akhlak mulia melalui perbuatan baik dan ucapan yang jujur.

Hal itu disampaikan dalam khutbah Arafah yang beliau sampaikan hari ini di Masjid Namirah. Dalam barisan depan shalat berjamaah tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Wilayah Makkah sekaligus Wakil Ketua Komite Pusat Haji dan Umroh, Pangeran Saud bin Mishaal bin Abdulaziz, Grand Mufti Arab Saudi sekaligus Ketua Dewan Ulama Senior dan Ketua Umum Riset Ilmiah dan Fatwa, Syekh Dr. Saleh Al-Fawzan, serta Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan, Syekh Dr. Abdullatif Al Alsheikh.

Berikut isi khutbahnya:

Segala puji bagi Allah, Raja Yang Mahasuci lagi Maha Sejahtera, yang mewajibkan kaum Muslimin menunaikan haji ke Baitullah Al-Haram dan menjadikannya sebagai salah satu rukun agama Islam.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Raja Yang Maha Mengetahui. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sebaik-baik manusia. Semoga shalawat dan salam yang paling sempurna tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.

Amma ba‘du, wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, karena dengan takwa seorang hamba akan memperoleh keselamatan di akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman pada awal Surah Al-Hajj:

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar (QS Al-Hajj : 1)

Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras. (QS Al-Hajj : 2)

Termasuk bagian dari ketakwaan kepada Allah adalah mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat dengan melakukan ketaatan serta meninggalkan kemaksiatan dan keburukan. Allah Ta’ala berfirman:

Demikianlah (penciptaan manusia) itu karena sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Benar dan sesungguhnya Dia menghidupkan orang-orang yang mati dan sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Hajj : 6)

Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (QS Al-Hajj : 7)

Sesungguhnya persiapan terbesar untuk menghadapi akhirat adalah mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, serta meninggalkan doa dan permohonan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

Dia menyeru sesuatu selain Allah yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan tidak (pula) memberikan manfaat kepadanya. Itulah kesesatan yang jauh. (QS Al-Hajj : 12)

Dia menyeru kepada sesuatu yang mudaratnya benar-benar lebih dekat daripada manfaatnya. Sungguh, itu seburuk-buruk penolong dan sejahat-jahat kawan. (QS Al-Hajj : 13)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS Al-Hajj : 31)

Syiar orang-orang beriman adalah mentauhidkan Allah Ta’ala. Allah berfirman:

Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (QS Al-Hajj : 34)

(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar, sabar atas apa yang menimpa mereka, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS Al-Hajj : 35)

Itulah rukun-rukun agama Islam: tauhid, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, serta menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram.

Semua itu disertai anjuran untuk senantiasa takut kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman:

Bagi siapa yang takut pada keagungan Tuhannya disediakan dua surga. (QS : Ar-Rahman : 46)

Juga disertai anjuran untuk bersabar dalam mentaati Allah dan menghadapi berbagai ketentuan hidup yang menyakitkan.

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan. (QS Az-Zumar : 10)

Juga dengan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Allah Ta’ala berfirman:

Demikianlah Kami telah menundukkannya (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur. (QS Al-Hajj : 36)

Allah memiliki sunnatullah dan ketetapan-ketetapan alam dalam kehidupan manusia yang wajib diimani dan diambil pelajarannya oleh seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat khianat lagi sangat kufur. (QS Al-Hajj : 38)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hajj : 40)

Di antara sunnatullah itu adalah firman Allah Ta’ala:

Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan). (QS Al-Hajj : 45)

Dan firman-Nya:

Berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (siksa)-nya, padahal (penduduk)-nya berbuat zalim, kemudian Aku siksa mereka. Hanya kepada-Ku tempat kembali (segala sesuatu). (QS Al-Hajj : 48)

Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung telah memerintahkan khalil-Nya, Nabi Ibrahim, untuk menyerukan ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman:

(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj  27)

(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir. (QS Al-Hajj : 28)

Benar, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi diri mereka dan menyebut nama Allah. Para jemaah haji datang dari berbagai penjuru dunia untuk menunaikan manasik demi meraih ridha Allah Ta’ala dan mengharap pahala-Nya. Mereka mengagungkan Baitullah Al-‘Atiq dan tempat-tempat suci. Allah Ta’ala berfirman:

dan (dari) Masjidil Haram yang telah Kami jadikan (terbuka) untuk semua manusia, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar (akan mendapatkan siksa yang sangat pedih). Siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya pasti akan Kami jadikan dia merasakan sebagian siksa yang pedih. (QS Al-Hajj : 25)

Jemaah dari berbagai penjuru dunia datang ke tempat-tempat suci ini sebagai bentuk pemenuhan seruan tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

(Ingatlah) ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan berfirman), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, mukim (di sekitarnya), serta rukuk (dan) sujud. (QS Al-Hajj  : 26)

Karena itu, Baitullah harus dijaga kesuciannya dari segala hal yang tidak sejalan dengan kemuliaan dan kedudukannya. Dalam pelaksanaan haji tidak ada tempat bagi perbuatan maksiat, pertengkaran, slogan-slogan politik, maupun seruan yang bersifat partisan. Yang ada adalah ketundukan kepada Allah SWT, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW, serta menjaga kesucian lahir dan batin.

Ibadah haji juga mengajarkan pentingnya menepati janji dan komitmen, serta menghormati hak-hak sesama. Allah SWT berfirman:

Demikianlah (petunjuk dan perintah Allah). Siapa yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (ḥurumāt) lebih baik baginya di sisi Tuhannya. (QS Al-Hajj : 30)

Dan firman-Nya:

Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati. (QS Al-Hajj : 32)

Ibadah haji juga menampilkan gambaran nyata tentang persaudaraan, kebersamaan, kerja sama, dan solidaritas di antara umat Islam. Dalam pelaksanaan manasik, jutaan jemaah dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan latar belakang berkumpul sebagai saudara seiman yang saling mencintai dan menghormati.

Mereka menyaksikan berbagai manfaat yang Allah sediakan bagi mereka, sekaligus berbagi rezeki melalui hewan kurban kepada mereka yang membutuhkan, sebagaimana firman Allah SWT:

Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir. (QS Al-Hajj : 28)

Selain itu, haji juga membentuk karakter mulia yang tercermin dalam perbuatan baik dan kejujuran dalam ucapan. Allah SWT berfirman:

dan jauhi (pula) perkataan dusta. (QS Al-Hajj : 30)

Di Padang Arafah, Allah SWT membanggakan para jemaah di hadapan para malaikat-Nya. Arafah merupakan tempat yang sangat agung, karena di sanalah Allah menurunkan firman-Nya:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS Al-Maidah : 3)

Karena itu, para jemaah hendaknya meneladani Rasulullah SAW dalam pelaksanaan wukuf di Arafah. Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar dengan cara dijamak dan diqashar, kemudian berdiam di Arafah untuk berzikir dan berdoa kepada Allah hingga matahari terbenam.

Setelah itu, beliau bertolak menuju Muzdalifah, sebagaimana firman Allah SWT:

Apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam.60) Berzikirlah kepada-Nya karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu meskipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (QS Al-Baqarah : 198)

Ketika tiba pagi Hari Raya Idul Adha, Rasulullah SAW bertolak menuju Mina untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji. Allah SWT berfirman:

Kemudian, bertolaklah kamu dari tempat orang-orang bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Baqarah : 199)

Di Mina, Nabi SAW memulai manasik dengan melempar Jumrah Aqabah, kemudian menyembelih hewan hadyu (kurban haji), mencukur rambut kepala, serta membolehkan jamaah yang tidak mencukur habis untuk memendekkan rambutnya. Setelah itu, beliau menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf di Baitullah.

Allah SWT berfirman:

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf di sekeliling al-Bait al-‘Atīq (Baitullah). (QS Al-Hajj : 29)

Dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, para jemaah hendaknya senantiasa menjaga ketenangan, bersikap santun, dan mengedepankan kelembutan dalam berinteraksi. Mereka juga diimbau untuk menghindari tindakan saling berdesakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, jemaah perlu mematuhi arahan dan instruksi dari pihak penyelenggara, termasuk mengikuti pengaturan jadwal keberangkatan (tafwij) serta jalur pergerakan yang telah ditetapkan. Kepatuhan terhadap ketentuan tersebut bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama, mencegah terjadinya bahaya dan kekacauan, menjaga keselamatan jiwa para jemaah, serta memastikan pelaksanaan ibadah haji dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.

Selama berada di Mina, para jemaah dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan mengingat Allah SWT. Sebab, salah satu tujuan utama dari ibadah haji adalah menghidupkan hati dengan mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

Apabila kamu telah menyelesaikan manasik (rangkaian ibadah) haji, berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. (QS Al-Baqarah : 200)

Pada hari-hari Tasyrik, jemaah haji melaksanakan lontar tiga jumrah, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Masing-masing jumrah dilempar dengan tujuh butir kerikil setiap harinya sesuai tuntunan syariat.

Meski demikian, yang lebih utama adalah tetap berada di Mina hingga tanggal 13 Dzulhijah untuk menyempurnakan rangkaian manasik. Namun, syariat juga memberikan keringanan bagi jemaah yang ingin meninggalkan Mina lebih awal pada tanggal 12 Dzulhijah setelah menyelesaikan lontar jumrah pada hari tersebut.

Allah SWT berfirman:

Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Siapa yang mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, tidak ada dosa baginya. Siapa yang mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya, (yakni) bagi orang yang bertakwa. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan. (QS Al-Baqarah : 203)

Sebelum meninggalkan Makkah dan kembali ke tanah air, jemaah haji menutup rangkaian ibadahnya dengan melaksanakan Thawaf Wada’ atau thawaf perpisahan sebagai penghormatan terakhir kepada Baitullah.

Allah SWT berfirman:

Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (kitab) ini (Al-Qur’an) agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada (ajaran) Allah. Dia adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. (QS Al-Hajj : 78)

Salah satu bentuk berpegang teguh kepada Allah SWT adalah dengan memperbanyak doa dan munajat kepada-Nya, terutama di tempat-tempat dan waktu-waktu utama selama pelaksanaan ibadah haji yang dikenal sebagai momen penuh keberkahan dan peluang terkabulnya doa.

Di antara doa yang paling utama adalah doa pada Hari Arafah. Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (HR. At-Tirmidzi).

Allah SWT juga berfirman:

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). (QS Ghafir : 60)

Selain itu, Al-Qur'an mengajarkan doa yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat:

Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Al-Baqarah : 201)

Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan. Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. (QS Al-Baqarah : 202)

Ya Allah, terimalah doa dan seluruh rangkaian ibadah para jemaah haji. Mudahkanlah segala urusan mereka, ampunilah dosa-dosa mereka, serta kembalikanlah mereka ke negeri masing-masing dalam keadaan selamat, penuh keberkahan, dan meraih kemenangan serta pahala dari-Mu.

Doa ini menjadi harapan bagi seluruh umat Islam agar para tamu Allah yang sedang menunaikan ibadah haji memperoleh haji yang mabrur, mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya, serta dapat kembali ke tanah air dengan membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan masyarakat.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam, satukanlah mereka di atas kebenaran, bimbing dan uruslah seluruh urusan mereka, serta perbaikilah kondisi mereka dalam urusan agama maupun kehidupan dunia.

Ya Allah, berikanlah taufik dan pertolongan kepada Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz, serta Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman. Limpahkan kepada keduanya balasan terbaik di dunia dan di akhirat atas berbagai upaya yang telah mereka lakukan dalam melayani para jemaah serta mempermudah pelaksanaan ibadah haji.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan salawat dan salam yang berlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Setelah itu, para jemaah haji melaksanakan salat Dhuhur dan Ashar secara jamak dan qasar, sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam pelaksanaan manasik haji.

Ilyas Sofwan

https://www.spa.gov.sa/N2599240

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://safar.co.id